TABAYYUN SEBAGAI PRINSIP KOMUNIKASI ISLAM DALAM MENGHADAPI HOAKS
Abstract
Perkembangan teknologi informasi di era digital membawa kemudahan dalam penyebaran informasi, namun juga meningkatkan maraknya hoaks yang dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik, dan perpecahan di masyarakat. Dalam perspektif Islam, terdapat prinsip tabayyun yang mengajarkan pentingnya memeriksa dan memastikan kebenaran suatu informasi sebelum menyebarkannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran tabayyun sebagai prinsip komunikasi Islam dalam menghadapi hoaks. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber seperti Al-Qur’an, hadis, serta literatur ilmiah terkait komunikasi Islam dan fenomena hoaks. Hasil kajian menunjukkan bahwa tabayyun merupakan langkah penting dalam menjaga keakuratan informasi, membangun komunikasi yang sehat, serta mencegah penyebaran berita palsu. Penerapan prinsip ini tidak hanya relevan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga sangat penting dalam penggunaan media sosial. Dengan demikian, tabayyun dapat menjadi solusi efektif dalam menghadapi hoaks serta membentuk masyarakat yang lebih bijak dan bertanggung jawab dalam menerima dan menyampaikan informasi
References
Allcott, H., & Gentzkow, M. (2017). Social media and fake news in the 2016 election. Journal of Economic Perspectives, 31(2), 211–236.
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia. (2022). Laporan survei penetrasi internet Indonesia 2022. Jakarta: APJII.
Aziz, A. (2019). Etika komunikasi Islam dalam menangkal hoaks di media sosial. Jurnal Komunikasi Islam, 9(2), 235–250.
Fauzi, M. (2020). Tabayyun sebagai konsep dasar dalam komunikasi Islam. Jurnal Dakwah dan Komunikasi, 5(1), 45–60.
Hefni, H. (2017). Komunikasi Islam. Jakarta: Prenada Media Group.
Hidayat, N. (2018). Konsep tabayyun dalam Al-Qur’an sebagai upaya pencegahan informasi palsu. Jurnal Studi Al-Qur’an, 14(1), 67–80.
Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia. (2021). Modul literasi digital: Cakap bermedia digital. Jakarta: Kominfo.
Livingstone, S. (2018). Media literacy and the challenge of new information and communication technologies. The Communication Review, 7(1), 3–14.
Nasrullah, R. (2017). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Pennycook, G., & Rand, D. G. (2019). Lazy, not biased: Susceptibility to partisan fake news is better explained by lack of reasoning. Cognition, 188, 39–50.
Sugiyono. (2018). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tandoc, E. C., Lim, Z. W., & Ling, R. (2018). Defining “fake news”: A typology of scholarly definitions. Digital Journalism, 6(2), 137–153.
UNESCO. (2019). Journalism, fake news & disinformation: Handbook for journalism education and training. Paris: UNESCO Publishing.
Vosoughi, S., Roy, D., & Aral, S. (2018). The spread of true and false news online. Science, 359(6380), 1146–1151.
Wardle, C., & Derakhshan, H. (2017). Information disorder: Toward an interdisciplinary framework for research and policy making. Strasbourg: Council of Europe.
Zed, M. (2014). Metode penelitian kepustakaan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.







