PANDANGAN TOKOH AGAMA KOTA SAMARINDA MENGENAI JIHATUL KA’BAH PADA ZAMAN MODERN
Abstract
Perkembangan teknologi berdampak kepada ilmu pengetahuan terdahulu. Contohnya pada arah kiblat, ulama terdahulu merumuskan dua konsep terkait hal itu yaitu ‘ainul ka’bah dan jihatul ka’bah. ‘Ainul ka’bah yaitu menghadap tepat ke bangunan ka’bah, sedangkan jihatul ka’bah yaitu menghadap ke arah bangunan ka’bah. Ulama terdahulu menyatakan jihatul ka’bah diperuntukkan bagi orang yang jauh dari ka’bah, karena pada saat itu akses untuk menghadap kiblat bagi yang jauh sangat sulit berbeda dengan zaman sekarang dengan dibantu dengan teknologi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pendapat tokoh agama Kota Samarinda mengenai jihatul ka’bah pada zaman modern, serta keabsahan sholat jika menggunakan jihatul ka’bah pada zaman sekarang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian normatif-empiris. Sumber data yang digunakan yaitu primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan wawancara dengan enam informan ditemukan tiga pendapat yaitu jihatul ka’bah masih relevan dengan alasan darul ifta menafsirkan kata “syataran” yaitu jihat dan untuk mempermudah muslim yang jauh dari ka’bah. Pendapat selanjutnya, jihatul ka’bah masih relevan dengan syarat dengan alasan selam belum terdapat teknologi yang akurat dan masyarakat belum mampu menggunakannya maka jihatul ka’bah masih relevan. Pendapat terakhir, jihatul ka’bah tidak relevan dengan alasan telah ada teknologi yang membantu dalam menghadap kepada bangunan ka’bah seperti kompas. Kemudian untuk keabsahan sholat ketika meggunakan jihatul ka’bah yaitu jika berpendapat jihatul ka’bah masih relevan maka sholatnya sah dan jika berpendapat jihatul ka’bah tidak relevan maka sholatnya tidak sah.
References
Al-Khin, Mustofa, dan Mustofa Al-Bugh. Al-Fiqhul Manhaji ’Ala Madzhabil Imamis Syafi’i. Dar Al-Qolm, 1996.
Al-Qalyubi, Shihab Ad-Din Ahmad. Hashitani Qalyubi: ’Ala Sharh Jalal Ad-Din Al-Mahalli ’Ala Minhaj Ath-Thalibin. Vol. 1. Dar Al-Fikr, 1998.
Al-San’ani, Muhammad. Subulus Salam. Al-Hidayah, t.t.
Awaludin, Muhammad, dan Ahmad Saifulhaq Almuhtadi. Arah Kiblat (Dialektika Fiqh, Sains Dan Tradisi). 1. Sanabil, 2020.
Imam. Arbain Nawawi. Pustaka Syabab, t.t.
Indayati, Wiwik. “Konsepsi Arah Kiblat Tanah Haram Perspektif Hadis.” ELFALAKY, 1, vol. 5 (Juni 2021). https://doi.org/10.24252/ifk.v5i1.23948.
Ismail, Ismail, Dikson T. Yasin, dan Zulfiah. “Toleransi Pelencengan Arah Kiblat di Indonesia Perspektif Ilmu Falak dan Hukum Islam.” Al-Mizan, 1, vol. 17 (Juni 2021): 115–38. https://doi.org/10.30603/am.v17i1.2070.
Majid, Nur Kholis. Kontroversi Arah Kiblat. UIN Sunan Ampel Pers, 2014.
Mashuri. Fikih. Kementerian Agama Republik Indonesia, 2020.
Mujab, Sayful. “Kiblat Dalam Perspektif Madzhab-Madzhab Fiqh.” Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam, 2, vol. 5 (2014).
Munawwir, Ahmad Warson. Al Munawwir Kamus Arab-Indonesia. Pustaka Progressif, 1997.
Mussafi, Noor Saif Muhammad, dan Fariduddin Jiddan. Pedoman Praktis Penentuan Arah Kiblat: Tinjauan Fiqih, Matematis, Dan Astronomis. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2020.
Mustaqim, Riza Afrian. “Penggunaan Google Earth Sebagai Calibrator Arah Kiblat.” Jurnal Justisia : Jurnal Ilmu Hukum, Perundang-undangan dan Pranata Sosial, 2, vol. 6 (Desember 2021): 194. https://doi.org/10.22373/justisia.v6i2.11537.
Nurliana, Damanik. Metodologi Studi Islam. CV. Prokreatif, 2023.
Sarbini, Muhammad. 200 Fikih Praktis Sehari-Hari. Pro-U Media, 2017.
Sayehu. Implementasi Rasi Bintang Untuk Penentuan Arah Kiblat Dengan Aplikasi. CV. Adanu Abimata, 2023.
Tanjung, Dhiauddin. “Urgensi Kalibrasi Arah Kiblat Dalam Penyempurnaan Ibadah Shalat.” Jurnal Al-Manhaji, 1, vol. 11 (2017).



